Parenting ParentingPanduan ringkas untuk pembaca yang ingin paham tanpa bertele-tele.
parenting

Belajar Hadir dari Kesibukan: Work-Life Balance untuk Ibu Bekerja

Pengalaman seorang ibu di Pulauriau menemukan cara hadir untuk anak di tengah kesibukan kerja. Cerita nyata tentang prioritas dan kualitas waktu bersama.

25 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Dani Setiawan Tjandra
Belajar Hadir dari Kesibukan: Work-Life Balance untuk Ibu Bekerja

Pagi itu saya buru-buru menyiapkan bekal, sementara Raka, anak saya yang baru tiga tahun, merengek minta ditemani main. Saya cuma bisa ngusap kepalanya sambil bilang, “Sebntar, ya, Mama selesai dulu.” Di perjalanan ke kantor, rasa bersalah itu datang. Gimana nggak? Setiap hari saya pulang larut, dan waktu bersama Raka hanya hitungan jam sebelum ia tidur. Sebagai ibu bekerja di Pulauriau, saya tahu bukan cuma saya yang bergulat dengan dilema ini. Banyak teman sesama ibu bekerja ngerasain hal yang sama: ingin memberikan yang terbaik di kantor dan juga menjadi ibu yang hadir sepenuh hati.

Menemukan Kualitas di Tengah Kuantitas yang Terbatas

Dulu saya pikir jadi ibu yang baik berarti menghabiskan banyak waktu dengan anak. Tapi setelah ngobrol dengan psikolog anak di puskesmas, saya sadar yang lebih penting itu kualitas kebersamaan, bukan kuantitas. Ia menyarankan saya bikin ritual kecil setiap hari tanpa gangguan gawai. Saya mulai dengan membaca satu buku cerita sebelum tidur, tanpa buru-buru. Awalnya Raka masih protes karena saya sering ngecek ponsel. Lalu saya belajar nahan diri: meletakkan ponsel di ruang lain selama 30 menit penuh. Perlahan saya liat perubahan. Raka jadi lebih tenang, lebih sering cerita tentang mainannya. Dia nggak butuh saya sepanjang hari; dia cuma butuh saya bener-bener hadir saat bersama.

Kunci lain adalah komunikasi terbuka dengan pasangan. Suami juga bekerja, jadi kami bagi tugas: dia siapin sarapan, saya anter Raka. Akhir pekan kami jadikan waktu keluarga tanpa jadwal rapat. Saya juga belajar bilang “nggak” pada lembur yang nggak mendesak. Bukan hal mudah, tapi setiap kali saya pulang tepat waktu dan ngeliat Raka berlari nyambut, rasanya semua usaha terbayar.

Penyesuaian ini nggak instan. Ada hari di mana saya tetap terpaksa lembur karena target kantor. Tapi saya nggak lagi biarin rasa bersalah menguasai. Saya pilih fokus pada momen-momen kecil yang saya miliki, bukan pada waktu yang hilang. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, kehadiran orang tua yang konsisten dan penuh perhatian sangat mendukung perkembangan emosi anak usia balita. Jadi yang terpenting bukan seberapa lama kita bareng, melainkan seberapa dalam koneksi yang kita bangun.

Sekarang saya nggak lagi ngejar sempurna. Ada hari ketika Raka rewel dan saya capek, tapi saya terima sebagai bagian dari proses. Saya ingat kata seorang temen: “Anak nggak butuh ibu super, dia butuh ibu yang nyata.” Di Pulauriau, saya nemuin bahwa dengan nerima keterbatasan justru saya bisa lebih nikmatin peran sebagai ibu dan pekerja. Kehadiran saya nggak diukur dari jumlah jam, tapi dari seberapa tulus saya dengerin, peluk, dan senyum ke dia.

Buku cerita dibacakan ibu pada anak sebelum tidur

Tag: #parenting #ibu bekerja #work-life balance #tumbuh kembang balita