Parenting ParentingPanduan ringkas untuk pembaca yang ingin paham tanpa bertele-tele.
parenting

Menyiasati Tantrum Anak di Tengah Kesibukan Sehari-hari

Kisah orangtua di Pulauriau menghadapi tantrum anak sambil menjaga kewarasan. Tips sederhana tanpa menggurui, berdasarkan pengalaman langsung.

23 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Dani Setiawan Tjandra
Menyiasati Tantrum Anak di Tengah Kesibukan Sehari-hari

Dua bulan lalu di kasir supermarket satu-satunya di Pulauriau, Rafa—anakku yang baru genap tiga tahun—tiba-tiba berguling di lantai. Ia menjerit minta permen cokelat yang sengaja tidak kubelikan. Beberapa ibu menoleh, ada yang tersenyum iba, ada yang menggeleng. Aku menarik napas, mengingat pesan istriku pagi tadi: "Kalau Rafa mulai, jangan ikut emosi." Di situlah aku belajar bahwa parenting sehari-hari bukan soal teori sempurna, tapi bagaimana kita bangkit dari kegagalan kecil setiap hari.

Ketika Si Kecil Meledak Emosinya

Setelah kejadian supermarket itu, aku mulai baca-baca lagi catatan kecil dari buku parenting sumbangan mertua. Ternyata, tantrum itu bahasa anak yang belum lancar ngomong. Rafa belum bisa ngungkapin rasa kecewa atau capek pake kata-kata. Jadilah jeritan sama tendangan jadi cara dia ngomong "tolong".

Suatu sore sepulang kerja, Rafa ngamuk gegara aku ngubah posisi sendok di meja makannya. Istriku cuma bisik, "Dia butuh yang konsisten." Sekarang kalo dia mulai ngambek, kami coba tiga hal: pertama, diam sebntar tanpa langsung bereaksi. Kedua, tebak apa sebenernya yang dia butuhin—lapar, ngantuk, atau cuma pengen dipeluk. Ketiga, alihin perhatian pake suara lembut atau benda sekitar kayak botol minum bergambar mobil. Nggak selalu berhasil sih, tapi makin sering dicoba, tantrumnya makin cepet reda.

Orangtua Juga Manusia

Kaya kebanyakan orangtua muda di Pulauriau, aku sama istri sibuk kerja. Pagi buru-buru, malem kecapean. Pernah ngerasa gagal banget pas Rafa rewel karena kita nggak sempet siapin sarapan. Tapi pelan-pelan aku nyadar, kesalahan kecil itu bagian dari proses belajar. Menurut info di Wikipedia, temper tantrum itu wajar buat anak usia 1-4 tahun dan bukan berarti pola asuh kita jelek. Sumber terkait temper tantrum. Dengan ngerti ini fase normal, beban rasa bersalah jadi lebih ringan.

Yang paling penting kupelajari: nggak ada orangtua sempurna, yang ada cuma orangtua yang terus belajar. Sekarang tiap Rafa mulai merengek, aku berusaha jongkok sampe sejajar sama matanya. Aku nggak selalu bisa bikin dia berhenti nangis, tapi yang penting dia tau aku ada di situ—bukan buat ngomelin, tapi jadi tempat pulang yang nyaman.

Tag: #parenting #tantrum #balita #orangtua muda #work-life balance